Artikel Model Pembelajaran Teman Sejawat (peer tutoring)

1 Feb

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEMAN SEJAWAT (PEER TUTORING) SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

Ade Soraya Lenggogeni

Email: adesoraya@gmail.com HP: 081277820124

 

Abstract: Application of Learning Model peers (peer tutoring) in an effort to improve mathematics learning outcomes in elementary school. This article is useful to know how the application of peer learning model (peer tutoring), so as to improve mathematics learning outcomes in elementary school. Learning model peers (peer tutoring) is one of the patterns of learning where a person or persons appointed clever student teachers to provide learning support for students who are less intelligent.
Keywords: Peer Tutoring, Mathematics Learning Outcomes                                                                                 
Abstrak: Penerapan Model Pembelajaran teman sejawat (peer tutoring) sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar matematika di sekolah dasar. Artikel ini berguna untuk mengetahui bagaimana penerapan model pembelajaran teman sejawat (peer tutoring), sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematika di sekolah dasar. Model pembelajaran teman sejawat (peer tutoring) adalah salah satu pola pembelajaran dimana seseorang atau beberapa orang siswa pandai ditunjuk guru untuk memberikan bantuan belajar bagi siswa yang kurang pandai. 
Kata kunci: Tutor Sebaya, Hasil Belajar Matematika

 

PENDAHULUAN

Matematika merupakan ilmu dasar yang sudah menjadi alat untuk mempelajari ilmu- ilmu yang lain (Antonius Cahya Prihandoko, 2006). Oleh karena itu penguasaan terhadap matematika mutlak diperlukan dan konsep-  konsep matematika harus dipahami dengan betul dan benar sejak dini.

Sebagaimana yang tercantum dalam Standar Kompetensi mata pelajaran matematika untuk satuan SD dan MI pada kurikulum 2004, disebutkan fungsi matematika adalah untuk mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyelidikan, eklsplorasi dan eksperimen, sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika, serta sebagai alat komunikasi sebagai simbol, tabel, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan (Depdiknas dalam Antonius Cahya Prihandoko, 2006 ).

Objek- objek dalam matematika tidak hanya ada untuk dipahami dan dikaji saja, tetapi juga dapat dipergunakan sebagai alat untuk memecahkan masalah. Selain itu matematika juga berfungsi sebagai alat untuk mengkomunikasikan gagasan melalui simbol- simbol, grafik, diagram dan tabel.

Guru secara tidak langsung dituntut harus dapat mengembangkan model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa berperan aktif dalam belajar. Namun pada kenyataannya dari hasil observasi dan wawancara yang penulis lakukan dengan beberapa guru di sekolah dasar, dalam pembelajaran matematika guru sering kali hanya menerapkan metode ceramah. Sistem penyampaian materi lebih banyak didominasi oleh guru, sehingga proses komunikasi hanya satu arah, dimana guru aktif menerangkan, memberi contoh, menyajikan soal, dan bertanya. Hal tersebut mengakibatkan siswa hanya duduk menerima secara pasif informasi pengetahuan yang di berikan guru dan keterampilan siswa cenderung diam, kurang berani bertanya dan menyatakan gagasan, sehingga hasil belajar matematika menjadi rendah.

Oleh karena itu guru matematika perlu memahami dan mengembangkan berbagai bentuk model pembelajaran yang inovatif untuk membuat siswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Matematika secara umum sangat sulit dipahami oleh siswa, karena matematika memiliki obyek yang sifatnya abstrak dan membutuhkan penalaran yang cukup tinggi untuk memahami setiap konsep-konsep matematika, sehingga perlu menerapkan model-model pembelajaran yang lebih baik dan tepat.

Sehubungan dengan rendahnya hasil belajar siswa dan gejala- gejala yang ditemukan, maka penulis merasa perlu membuat sebuah artikel tentang model pembelajaran yang bisa diterapkan pada proses pembelajaran matematika. Model pembelajaran yang akan dikaji adalah model pembelajaran teman sejawat (peer tutoring).

Paradigma yang melandasi dikembangkannya model pembelajaran teman sejawat (peer tutoring) adalah siswa akan lebih cepat memahami apa yang diajarkan oleh temannya, dibandingkan apa yang diajarkan oleh guru, karena belajar dengan teman menjadikan siswa bebas menyampaikan gagasan- gagasan dan pertanyaan- pertanyaan mengenai hal- hal yang belum mereka ketahui dan pahami. Suryo dan Amin dalam Sabbarudin (2009) menjelaskan bahwa tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa-siswa tertentu yang mengalami kesulitan belajar. Penggunaan model pembelajaran teman sejawat (peer tutoring)  dalam pembelajaran matematika merupakan salah satu cara yang diharapkan dapat memberi peran aktif bagi siswa, agar mereka mempelajari dengan sungguh- sungguh materi yang diberikan. Sehingga diharapkan dengan menggunakan model pembelajaran teman sejaway (peer tutoring)  ini, siswa lebih mudah menyerap materi yang diajarkan, dan pada akhirnya hasil belajar matematika siswa akan meningkat.

Dengan melihat latar belakang masalah tersebut penulis terdorong untuk melakukan analisis dengan judul “Penerapan Pembelajaran Teman Sejawat (peer tutorng) sebagai Upaya untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika di Sekolah Dasar”.

 

PEMBAHASAN UTAMA

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran pokok, tidak hanya di sekolah dasar tapi juga di SMP dan SMA. Oleh karena itu, matematika harus dapat dipahami dengan benar sejak dini. Untuk itu guru dituntut dapat menyajikan metematika dengan menerapkan model- model pembelajaran, sehingga proses pembelajaran matematika dapat berlansung secara efektif. Trianto (2007) mengemukakan model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran matematika adalah model pembelajaran teman sejawat (peer tutoring). Menurut Ridwan Abdullah Sani (2013) pembelajaran teman sejawat (peer tutoring) merupakan kegiatan belajar yang berpusat pada peserta didik sebab anggota komunitas belajar merencanakan dan memfasilitasi kesempatan belajar untuk dirinya sendiri dan orang lain. Sejalan dengan hal tersebut, Has Sumoko dalam (dalam Khoirotus Saadah, 2009) mengemukakan bahwa sumber belajar tidak harus guru, sumber belajar dapat orang lain yang bukan guru, melainkan teman dari kelas yang lebih tinggi, teman sekelas atau keluarganya dirumah. Sumber belajar yang bukan guru, tetapi berasal dari orang yang lebih pandai disebut tutor. Tutor teman sejawat adalah teman sekelas yang lebih pandai dan tutor kakak adalah tutor dari  kelas yang lebih tinggi.

Memperkuat pendapat diatas, menurut Suherman  (dalam Musyayadah ,2012) pembelajaran tutor sebaya atau tutor sejawat merupakan pembelajaran yang terpusat pada siswa, dalam hal ini siswa belajar dari siswa lain yang memiliki status umur, kematangan / harga diri yang tidak jauh berbeda dari dirinya sendiri. Sehingga anak tidak merasa begitu terpaksa untuk menerima ide – ide dan sikap dari gurunya yang tidak lain adalah teman sebayanya itu sendiri.

Dengan memperhatikan beberapa pengertian pembelajaran tutor sjawat (peer tutoring) diatas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran tutor sejawat (peer tutoring) merupakan salah satu tipe atau pola pembelajaran dimana guru memberi kesempatan pada siswa (tutor) yang dianggap telah memahami materi yang telah diajarkan untuk mengajarkannya kembali kepada teman sekelasnya agar siswa yang belum paham dapat berkomunikasi berupa bertanya atau menanggapi dengan temannya (tutor) tanpa rasa canggung, takut, atau ragu.

 Penjelasan tutor dengan temannya lebih memungkinkan berhasil dibandingkan guru, karena belajar dengan teman menjadikan siswa bebas menyampaikan gagasan- gagasan dan pertanyaan- pertanyaan mengenai hal- hal yang belum mereka ketahui dan pahami. Peran guru dalam pembelajaran hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing terbatas. Artinya, guru hanya melakukan intervensi ketika betul-betul diperlukan oleh siswa.

Menurut Ridwan Abdullah Sani (2013) tahapan pembelajaran teman sejawat (peer tutoring) pada umumnya mengikuti pola sebagai berikut:

  1. Guru mengidentifikasi beberapa peserta didik yang memiliki kemampuan yang lebih baik dari pada temannya dikelas yang sama untuk dijadikan tutor. Jumlah tutor sama dengan jumlah kelompok belajar yang akan dibentuk.
  2. Guru melatih tutor dalam materi yang akan dipelajari oleh kelas dan menjelaskan latihan serta evaluasi yang akan dilakukan
  3. Guru menjelaskan materi pelajaran secara ringkas pada semua peserta didik dan memberikan kesempatan tanya- jawab.
  4. Guru memberikan tugas yang harus dikerjakan dan tata cara melakukan evaluasi (penilaian diri dan penilaian sejawat)
  5. Tutor sejawat membantu temannya dalam mengerjakan tugas dan memberikan penjelasan tentang materi yang belum dipahami temannya dalam satu kelompok.
  6. Guru mengevaluasi proses pembelajaran. Tutor menilai hasil kerja temannya dalam satu kelompok dan membuat laporan pada guru. Peserta didik membuat penilaian diri dan penilaian teman sejawat mengikuti format yang disediakan.

Menurut Hamalik dalam Sabaruddin (2009) tahap-tahap persiapan dalam menerapkan model pembelajaran teman sejawat (peer tutoring) adalah sebagai berikut:

  1. Guru membuat program pengajaran atau rancangan pelaksanaan pembelajaran.
  2. Menentukan beberapa orang siswa yang memenuhi kriteria sebagai tutor. Jumlah tutor yang di tunjuk disesuaikan dengan jumlah kelompok yang dibentuk.
  3. Mengadakan latihan bagi para tutor. Dalam pelaksanaan tutorial atau bimbingan ini, siswa yang menjadi tutor bertindak sebagai guru. Sehingga latihan yang diadakan oleh guru merupakan semacam pendidikan guru atau siswa itu. Latihan di adakan dengan dua cara yaitu melalui latihan kelompok kecil dimana dalam hal ini yang mendapatkan latihan hanya siswa yang akan menjadi tutor, dan melalui latihan klasikal, dimana siswa seluruh kelas dilatih bagaimana proses pembimbingan ini berlangsung.
  4. Pengelompokan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang yang terdiri atas 4-6 orang. Kelompok ini disusun berdasarkan variasi tingkat kecerdasan siswa.

Untuk menjadi seorang tutor ada beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang siswa yaitu siswa yang dipilih nilai prestasi belajar matematikanya lebih tinggi dari siswa lain, dapat memberikan bimbingan dan penjelasan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dan memiliki kesabaran serta kemampuan memotivasi siswa dalam belajar.

Tutor atau ketua kelompok memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut :

  1. Memberikan tutorial kepada anggota kelompok terhadap materi ajar yang sedang dipelajari.
  2. Mengkoordinir proses diskusi agar berlangsung kreatif dan dinamis.
  3. Menyampaikan permasalahan kepada guru pembimbing apabila ada materi ajar yang belum dikuasai.
  4. Menyusun jadwal diskusi bersama anggota kelompok, baik pada saat tatap muka di kelas maupun di luar kelas, untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
  5. Melaporkan perkembangan akademis kelompoknya kepada guru pembimbing pada setiap materi yang dipelajari.

Dalam model pembelajarna teman sejawat (peer tutoring) ini, siswa akan lebih cepat memahami apa yang diajarkan oleh temannya, dibandingkan apa yang diajarkan oleh guru, karena belajar dengan teman menjadikan siswa bebas menyampaikan gagasan- gagasan dan pertanyaan- pertanyaan mengenai hal- hal yang belum mereka ketahui dan pahami. Penggunaan model pembelajaran teman sejawat (peer tutoring) dalam pembelajaran matematika merupakan salah satu cara yang diharapkan dapat memberi peran aktif bagi siswa dalam proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

Beberapa kelebihan pembelajaran teman sejawat (peer tutoring) adalah sebagai berikut.

  1. Adanya suasana hubungan yang lebih dekat dan akrab antara siswa yang dibantu dengan siswa sebagai tutor yang membantu.
  2. Bagi tutor sendiri, kegiatan ini merupakan kesempatan untuk pengayaan dalam belajar dan juga dapat menambah motivasi belajar.
  3. Bersifat efisien, artinya bisa lebih banyak yang dibantu.
  4. Dapat meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri.

 

                                                           

SIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan diatas, maka dapat dikemukakan simpulan bahwa:

  1. Dengan menggunakan model pembelajaran teman sejawat (peer tutoring)  pada mata pelajaran Matematika, maka hasil belajar siswa akan dapat meningkat dikarenakan pada proses pembelajaran siswa sudah dapat bekerjasama dengan tutor dengan baik.
  2. Dengan menggunakan model pembelajaran teman sejawat (peer tutoring) padan pembelajaran matematika, siswa bisa saling mengajari satu sama lain dengan benar sehingga matematika tidak lagi menjadi salah satu mata pelajaran yang sulit.
  3. Dengan menggunakan model pembelajaran teman sejawat (peer tutoring) siswa yang ditunjuk sebagai tutor menjadi lebih ingat dalam memori jangka panjang terhadap materi yang telah ia ajarkan kepada temannya.
  1. Peran guru dalam pembelajaran hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing terbatas. Artinya, guru hanya melakukan intervensi ketika betul-betul diperlukan oleh siswa.
  2. Model pembelajaran teman sejawat (peer tutoring) dapat dijadikan salah satu alternatif penerapan model pembelajaran, dalam proses pembelajaran matematika.

 

DAFTAR PUSTAKA

Antonius Cahya Prihandoko. 2006. Pemahaman dan Penyajian Konsep Matematika Secara Benar dan Menarik. Departamen Pendidikan Nasional.

Khoirotus Saadah. 2009. Penerapan Modeel Pembelajaran Tutor Sebaya untuk Meningkatkan Haisil Belajar Matematika Pokok Bahasan Himpunan pada Siswa Kelas VII A Semester II SMP N 2 Pencengaan Jepara Tahun Pelajaran 2008/ 2009. Skripsi tidak dipublikaskan. Jurusan Pendidikan Matematika. IKIP PGRI Semarang.

Musyayadah. 2012. Penerapan Pembelajaran Tutor Sebaya untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Matematika Materi Bangun Datar di Kelas V a MI Nurul Hidayah Margohayu Karangawen Demak Tahun Ajaran 2011/ 2012. Skripsi tidak dipublikasikan. Fakultas Tarbiah IAIN Walisongo. Semarang.

Ridwan Abdullah Sani. 2013. Inovasi Pembelajaran. Bumi Aksara. Jakarta.

Sabaruddin. 2009. Peranan Metode Tutor Sebaya Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas 5 Sdn Inpres Karawa Kab. Pinrang  Pada Pokok Bahasan KPK dan FPB. Skripsi tidak dipublikasikan. UPP PGSD Pare Pare. Makasar

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: